Kukuh, 23 April 2026 — Pemerintah Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan menegaskan komitmennya dalam upaya percepatan penurunan stunting, meskipun di tengah keterbatasan anggaran desa akibat pergeseran kebijakan nasional. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Rembug Stunting Desa Kukuh yang digelar pada Kamis (23/4).
Dalam forum tersebut, Perbekel Desa Kukuh, I Nyoman Widhi Adnyana, S.Kom., M.Pd., NL.P, memaparkan bahwa berdasarkan data Triwulan I Tahun 2026, kondisi stunting di desa secara umum masih terkendali. Dari total 57 sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang terdiri dari 7 ibu hamil dan 50 anak usia 0–23 bulan, tidak ditemukan kasus stunting maupun gizi kurang.
Namun demikian, terdapat satu anak usia 1 tahun 6 bulan yang telah terindikasi berada pada kategori kuning atau berisiko stunting. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah desa sebagai langkah deteksi dini agar tidak berkembang menjadi stunting.
Selain itu, satu ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau risiko tinggi juga telah melahirkan. Pemerintah desa menekankan pentingnya pemantauan lanjutan terhadap ibu dan bayi guna memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.
Dari sisi layanan, tingkat konvergensi desa tercatat sebesar 79 persen, dengan capaian layanan ibu hamil mencapai 100 persen, sementara layanan untuk anak usia 0–23 bulan masih berada pada angka 76 persen. Hal ini menunjukkan masih adanya ruang perbaikan, khususnya dalam pemenuhan layanan dasar bagi anak.
Di sisi lain, pemerintah desa juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan anggaran. Sekitar 70 persen Dana Desa saat ini dialokasikan untuk Program Prioritas Nasional, yaitu KDMP, sehingga berdampak pada keterbatasan ruang fiskal desa.
Meski demikian, Pemerintah Desa Kukuh tetap menunjukkan komitmen kuat dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp140.352.000 atau sekitar 51 persen untuk kegiatan pencegahan stunting.
“Keterbatasan anggaran bukan menjadi alasan untuk menurunkan komitmen. Justru ini menjadi momentum untuk memperkuat strategi dan memastikan program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran,” tegas Perbekel I Nyoman Widhi Adnyana dalam sambutannya.
Melalui Rembug Stunting ini, seluruh pihak yang terlibat, mulai dari kader kesehatan, PKK, tenaga medis, hingga tokoh masyarakat, diajak untuk memperkuat sinergi dan bergerak cepat, khususnya dalam menangani anak yang telah berada pada kategori risiko.
Pemerintah desa juga menekankan pentingnya intervensi berkelanjutan melalui pemantauan pertumbuhan, pemberian gizi, edukasi keluarga, serta kunjungan rumah secara intensif.
Dengan capaian zero stunting yang saat ini masih terjaga, Desa Kukuh berkomitmen untuk mempertahankan kondisi tersebut melalui kerja nyata dan semangat gotong royong, demi mewujudkan generasi desa yang sehat, cerdas, dan berkualitas.